Abdul Muhjib Jual Tiket Surga Rp2 Juta


Abdul Muhjib dari Karawang, Jawa Barat membuat heboh masyarakat sekitar karena mengaku sebagai nabi. Ketika mengaku sebagai nabi palsu itu, Muhjib yang ingin mengubah kalimat syahadat  itu telah memiliki lima pengikut. Muhjib juga menjual tiket masuk surga seharga Rp2 juta. Kini, polisi telah menangkap Muhjib dan kelima pengikutnya dengan tuduhan penistaan agama.
Pada 2008 lalu, Muhjib diketahui mengalami gangguan jiwa dan pernah menjalani pengobatan di Desa Karokrok, Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat pimpinan Ghani.
" Sebenarnya bukan anggota atau jamaah. Dia di sini dulu pernah menjadi pasien selama dua minggu, karena mengalami gangguan jiwa," kata Ghani.
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rafani Achyar menduga ajaran sesat yang dibawa oleh Muhjib ini berasal dari Subang.
Meski demikian, MUI Jawa Barat masih menyelidiki siapa guru Muhjib yang menyebarkan ajaran sesat itu.
Akibat peristiwa itu, warga kemudian menghancurkan rumah yang diduga juga sebagai tempat menyebarkan ajaran sesat yang biasa dilakukan oleh Muhjib. Rumah tersebut sudah ditempati Muhjib sejak 2008 lalu.

Tetapi, fenomena serupa tak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia lain, banyak fenomena mengenai kemunculan nabi palsu.
Melihat banyaknya fenomena itu, diteliti oleh seorang dosen asal Fakultas Filsafat UGM Agus Himmawan Utomo. Melalui penelitian doktoral berjudul 'Konsep Kenabian Perspektif Perennialisme Frithjof Schuon:Relevansinya dengan Kehidupan Keberagamaan di Indonesia', dia berhasil menguak sisi filosofis dari fenomena nabi palsu itu.
Menurut dia, klaim kenabian kerap memunculkan masalah di lingkungan masyarakat karena logika yang menuntut pengakuan untuk menerima. Padahal, sebetulnya, kemunculan nabi itu harusnya saling melengkapi dan menguatkan pesan yang intinya sama karena berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
“ Inilah substansi kenabian yang bersifat abadi,” kata Agus.
Dalam konteks keindonesiaan, ketika ada seorang yang mengaku nabi, ada pesan tidak konsisten dengan pesan nabi terdahulu. Oleh karena itu, kata Agus, nabi palsu itu diragukan dan mendapat penolakan.
“ Begitupun kesesuaian praktik-praktik keagamaan yang diajarkan para nabi haruslah sesuai dengan nilai-nilai luhur ilahiah,” ucap dia.

Bentuk atau wujud kenabian itu beragam dan berjenjang. Tetapi, kata Agus, substansinya satu dan sama.
Bahkan, menurut Agus, dalam tiap tradisi agama muncul bentuk kenabian yang berbeda baik istilah maupun konsepnya. Kemunculan nabi itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.
“ Apa yang dibutuhkan di tiap masa dan komunitas sangat mungkin berlainan dalam hal yang menjadi problem dan perhatian utamanya,” katanya
Hasil dari penelitian Agus itu berkesimpulan singkat. Dia mengatakan, selama tidak ada yang menjunjung nabi palsu melebihi batas kemanusiaannya, maka tidak akan menjadi masalah.
" Tetapi manakala muncul individu-individu yang diagung-agungkan dan dipatuhi melebihi kepatuhan dan ketundukan pada Yang Ilahi maka yang muncul adalah sebuah problema besar," ucap dia.

Comments

Popular posts from this blog

Ini Video Prank Ojol Sampai Nete dan J1L4T M3M3K

VIRAL! Video Mesum Pegawai Bank SUMSEL BABEL Tersebar!

Emak-Emak Rebutan Dendeng Daging di Kondangan Sampai Baku Hantam